Sabtu, 04 Juli 2009

Serangan Umum 1 Maret 1949

Perang kemerdekaan atau revolusi fisik merupakan suatu periode yang sangat penting, karena sangat menentukan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi telah memberikan makna dan arti yang penting bagi kelanjutan bangsa dalam mencapai kemerdekaan Indonesia, pada saat kekuatan bersenjata bangsa Indonesia masih terpecah dalam kesatuan yang berdiri sendiri maka satu-satunya kekuatan yang dapat mengikat adalah semangat patriotisme yang pantang menyerah melawan musuh.

Dengan keberhasilan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan kelangsung hidup Negara dilandasi dengan nilai-nilai semangat juang yang tinggi.[1] Kekuatan bangsa Indonesia yang paling dahsyat adalah keyakinan akan kebenaran dan kemenangan perjuangan yang tinggi, kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan serta sikap yang tidak kenal menyerah.[2] Setelah lepas dari Jepang bangsa Indonesia dihadapkan oleh berbagai tantangan. Tantangan tersebut datang dari luar negeri tetapi juga datang dari dalam negeri sendiri yang tidak menginginkan persatuan dalam tubuh bangsa Indonesia. Maka ketika Belanda ingin menguasai Indonesia kembali, bangsa Indonesia berusaha untuk mempertahankannya. Bangsa Indonesia memang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan.

Dengan menyerahnya Jepang pada Sekutu dalam Perang Dunia II maka pihak Sekutu mengeluarkan perintah kepada Jepang agar memelihara status quo di masing-masing wilayah termasuk Indonesia. Pada awal kedatangan sekutu di Indonesia tidak mendapat reaksi dari pemerintah dan rakyat Indonesia, akan tetapi setelah diketahui bahwa pasukan Sekutu (Inggris) membawa orang-orang NICA yang dengan terang-terangan ingin menegakkan kembali kolonial di Indonesia maka pemerintah Indonesia mulai memprotes.[3] Sebagai bukti protes terhadap NICA yang akan membentuk pemerintah kolonial Belanda kembali, maka pada akhir tahun 1945 rakyat Indonesia mengadakan perlawanan terhadap sekutu dan NICA. Daerah Jawa Barat merupakan daerah yang dianggap tepat sebagai tempat perlawanan yang gigih terhadap tentara sekutu dan NICA, sehingga tentara sekutu banyak ditempatkan didaerah Jawa Barat. Sesudah proklamasi rakyat Indonesia menolak bentuk penjajahan yang berasal dari luar dan sebaliknya pemerintahan Belanda masih menganggap Indonesia sebagai daerah jajahan, maka dari itu daerah Yogyakarta yang dijadikan Ibukota Republik Indonesia pada tanggal 4 januari 1946 dianggap oleh Belanda sebagai benteng perjuangan dan pertahanan bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selama Pemerintahan Republik Indonesia masih ada, maka Belanda tidak akan bisa untuk menguasai wilayah Indonesia secara utuh.

Sehingga mengakibatkan pertentangan kedua belah pihak baik Belanda maupun Indonesia semakin memanas dan menimbulkan perundingan kedua belah pihak yaitu perundingan yang dapat dicapai pada tanggal 15 november 1946 yang dikenal dengan persetujuan Linggarjati. Pada pokoknya bahwa pemerintah Belanda menngakui kenyataan kekuasaan de facto Pemerintah RI atas Jawa, Madura dan Sumatra.[4] Berdasarkan persetujuan Linggarjati dapat dikatakan bahwa Republik Indonesia mengakui Belanda atas wilayah Indonesia bagian timur. Sebaliknya belanda mengakui bahwa pemerintahan RI berkuasa atas wilayah Indonesia bagian barat. Dan secara singkat hasil dari perundingan Linggarjati Belanda berhasil menyempitkan wilayah kekuasaan Indonesia, namun juga mempergunakan kekerasan senjata (tindakan militer). Aksi kekerasan senjata dilakukan pada tanggal 21 juli 1947 dengan menyerang daerah-daerah RI baik di Jawa maupun Sumatra dengan memakai kekuasannya.[5] Aksi ini dilancarkan oleh belanda dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.[6]

Dalam persetujuan Linggarjati ini menimbulkan blokade yang kuat terhadap RI, sehingga kerjasama dengan luar negeri untuk memperoleh persenjataan dan lalu lintas perekonomian menjadi macet. Pemerintahan Belanda hanya mau mengakui RI sebagai Negara bagian, atas dasar persamaan derajat dengan Negara-negara lainnya, yang kemudian akan melahirkan negara Indonesia Serikat merdeka. Dan menuntut RI untuk memutuskan hubungan dengan luar negeri dan menghapuskan diplomatik serta TNI harus dibubarkan, jadi secara singkat pihak belanda menuntut RI menanggalkan kedaulatannya yang dicapai sejak Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.[7] tapi pihak Indonesia tidak memenuhi tuntutan dari pemerintahan Belanda, pihak RI tetap mempertahankan pendiriannya. Dengan kedudukan selama masa peralihan tidak dapat disamakan dengan negara bagian yang lain dan hak kedaulatan de facto harus diakui oleh pihak Belanda.

Setelah agresi yang dilakukan oleh Belanda selesai maka kedua belah pihak kembali dihadapkan pada persetujuan Renville yang dihadiri oleh KTN(Komisi Tiga Negara),pihak Indonesia, dan pihak Belanda di atas kapal Renville pada tanggal 8 Desember 1947. Pada pokoknya pemerintahan belanda mengusulkan tentang garis demarkasi Van Mook dan kesedian kedua belah pihak untuk menyelesaikan pertikaian dengan jalan damai dengan bantuan KTN, dengan usulan ini pihak Indonesia terpaksa menerimanya.[8] Berdasarkan persetujuan Renville ini pihak Belanda ingin segera menghancurkan Republik Indonesia dengan menggunakan kekuatan militer, dan pihak Indonesia melakukan penolakan pasukan Belanda masuk ke Indonesia di tambah pula dengan penolakan RI untuk mengakui kedaulatan belanda yang merupakan perbedaan mutlak. Ternyata pihak Belanda tidak menaati perjanjian Renville dan melakukan penyerangan terhadap Yogyakarta sebagai ibukota RI dan berhasil mengambil alih Yogyakarta dengan aksi militer Belanda II yang dimulai pada tanggal 19 Desember 1948 dengan ditawannya presiden Soekarno beserta para Delegasi Indonesia. Secara otomatis wilayah Yogyakarta sudah dikuasai oleh Belanda.

Setelah Yogyakarta dikuasai oleh Belanda, maka TNI beserta rakyat melakukan penyerangan terhadap Belanda di pusat kota Yogyakarta dengan sasaran yaitu garis-garis komunikasi belanda dengan memutuskan kawat-kawat telepon, merusak jalan kereta api dan menyerang konvoi Belanda. Yang mengakibatkan pihak Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos penjagaan di sepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah diduduki oleh Belanda. Puncak penyerangan terrhadap belanda di pusat kota Yogyakarta yaitu pada tanggal 1 Maret 1949 yang dipimpin langsung oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan Letnan Kolonel Suharto. Letnan Kolonel Suharto merupakan komandan Brigade 10 Wehrkreis III yang membawahi daerah Yogyakarta.[9]

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dikemukakan terlebih dahulu rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta ?

2. Bagaimana perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 ?

3. Bagaimana akibat dari Serangan Umum 1Maret1949 bagi kedua belah pihak?

B. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan permasalahan diatas maka tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:

a. Untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949.

b. Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 sebuah pelurusan sejarah

c. Untuk mengetahui akibat dari Serangan Umum 1 Maret 1949 bagi kedua belah pihak

C. Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi memberi manfaat antara lain:

1. Bagi penulis

Penulisan ini pada intinya yaitu menambah pengetahuan baru khususnnya tentang Serangan Umum 1Maret 1949 sebuah Pelurusan sejarah

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Penulisan ini diharapkan dapat menambah, melengkapi, dan memperkaya karya ilimiah sejarah perjuangan bangsa Indonesia terutama Serangan Umum 1 Maret 1949 Sebuah Pelurusan sejarah

3. Bagi Mahasiswa Pendidikan Sejarah

Penulisan ini diharapkan dapat menambah, memperluas cakrawala dan pengetahuan khususnya tentang sejarah Indonesia.

D. Sistematika Penulisan

Tulisan ini terdiri dari 5 bab yang akan menjelaskan permasalahan– permasalahan pokok yaitu

Bab I, merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, sistematika penulisan

Bab II, merupakan latar belakang terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta

Bab III, akan dikemukakan tentang perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 sebuah pelurusan sejarah

Bab IV, diuraikannya tentang akibat dari Serangan Umum 1Maret 1949 bagi masyarakat Yogyakarta dan Belanda sendiri.

Bab V, penutup

BAB II

LATAR BELAKANG TERJADINYA

SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

A. Keadaan Yogyakarta setelah Agresi Militer Belanda

I. Situasi Politik

Setelah Belanda berhasil melancarkan Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948, dan menduduki tempat-tempat penting sehingga Belanda mulai menjalankan roda pemerintahan pendudukan dalam rangka memulihkan keamanan dan ketertiban di kota Yogyakarta. Maka dari itu pemerintahan RI telah mempersiapkan baik pemerintahan militer dan pemerintahan sipil, pemerintahan RI mulai menyiapkan pemerintahan diantaranya:

A. Pemerintahan Sipil

Pemerintahan sipil mula-mula berpusat di Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam melaksanakan pemerintahan sipil sesudah agresi militer Belanda II berpedoman pada instruksi bagi para pamong praja antara lain[10]:

a. Sri Paduka Sultan, Sri Paduka Pakoe Alam, dan staf Jawatan Praja Daerah tetap di kota Yogyakarta.

b. Apabila tempat diduduki Belanda, maka Pamong Praja supaya berusaha jangan sampai jatuh di tangan Belanda.

c. Pamong Praja termasuk pamong desa harus tetap berada di dalam wilayahnya masing-masing memimpin dan melindungi rakyatnya (jangan sampai meninggalkan rakyat).

d. Perhubungan dengan pimpinan daerah Sultan dan Sri Pakoe Alam harus sebanyaknya diadakan dan diatur secara ilegal.

e. Jawatan Praja memberikan kodenya dan kabupaten begitu juga

f. Kurir (penghubung) tidak boleh membawa surat, semua laporan dan instruksi disampaikan oleh kurir dari Jawatan Praja dan Kabupaten mondeling dengan menyampaikan kode buat legitimasi.

g. Jawatan Praja adalah penghubung Kepala daerah dan Kabupaten, Kapaneewon, dan tenttara polisi semua itu dengan jalan ilegal

h. Kantor Kepatihan/ Pemerintah Daerah semua tutup sampai ada perintah dari Sultan

Dalam pelaksanaan pemerintahan sipil daerah Yogyakarta dilaksanakan oleh Jawatan Praja, yang ditunjuk sebagai Pemerintah Darurat, pemerintahan Daerah Darurat( saat itu dipergunakan istilah pemerintahan ilegal) di dalam kota berkantor secara berpindah-pindah, fungsi atau peranan Jawatan Praja pada hakikatnya merupakan penghubung antara Kepala Daerah atau Wakil kepala Daerah yaitu Sri Sultan dan Pakoe Alam dengan segenap aparat pemerintahan dan rakyat meskipun kegiatan yang dilakukan secara sembunyi – sembunyi. Untuk roda pemerintahan sipil di luar kota Yogyakarta dilaksanakan koordinasi dengan Jawatan Praja sebagai penghubung.[11]

Adapun faktor- faktor yang mendorong kesulitan dalam masalah politik yang timbul bagi rakyat, dikarenakan keadaan keamanan yang belum stabil, masih banyaknya pengungsi dari kota ke desa. Namun satu hal yang mengganggu masalah ekonomi yang berkaitan erat dengan soal politik yaitu mengenai alat pembayaran dewasa, hal ini disebabkan terrdapat dua alat pembayaran yaitu ORI dan sesudah Belanda masuk ke Yogyakarta beredar pula uang merah Belanda ataau dikenal dengan uang federal.

Situasi Politik seperti yang diungkapkan di atas menyebabkan terjadinya Serangan Umum, dikarenakan adanya keamanan yang belum mendukung di wilayah kota Yogyakarta dan pasukan Belanda yang terus menduduki wilayah Yogyakarta satu per satu, maka dari itu pemerintah RI membentuk pemerintahan sipil dan militer untuk mengatasi keamanan wilayah Yogyakarta.(Analisa)

B. Pemerintahan Militer

Dalam melaksanakan pemerintahan militer sebagai usaha mewujudkan pertahanan rakyat semesta yang bersumber pada unsur kekuatan bersenjata, dukungan rakyat jauh sebelum agresi militer Belanda II bulan Desember 1948. Segala persiapan tampaknya bernada mundur dan menghindarkan diri memang demikian halnya, kesemuanya sesuai dengan garis yang telah ditetapkan oleh pimpinan TNI. Cara-cara itu yang dipakai TNI untuk melancarkan perang kemerdekaan II yang telah digariskan dalam Instruksi Panglima Besar pada tanggal 9 November 1948 yang terkenal dengan nama perintah panglima besar no 1 atau perintah siasat no 1. perintah siasat Panglima Besar Sudirman, isi perintah siasat adalah[12]:

§ Tidak akan melakukan pertahanan liniair

§ Tugas memperlambat kemajuan serbuan-serbuan musuh, serta pengungsian total(semua pegawai) serta bumi hangus.

§ Tugas pembentuk kantong-kantong ditiap onder distrik militer yang mempunyai pemerintahan gerilya (wehrkreise) yang totaliter dan mempunyai pusat dibeberapa komplek pegunungan.

§ Tugas pasukan yang berasal daerah federal untuk ber wingate(menyusup kembali kedaerah) dan membentuk kantong-kantong sehingga seluruh jawa akan menjadi satu perang gerilya yang besar.

Langkah untuk mereliasasikan strategi dan taktik pemerintahan militer ditempuh dengan melalui peraturan pemerintahan maupun keputusan menteri pertahanan contoh: Keputusan Menteri Pertahanan Nomor A/852/48 tanggal 28 Oktober 1948 tentang pembentukan Markas Komando Jawa dibawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution dan Sumatra dibawah pimpinan Kolonel Hidayat. Yang kemudian dikeluarkan Maklumat tentang Pemerintahan Militer untuk seluruh Jawa adalah sebagai berikut: [13]

MARKAS BESAR KOMANDO JAWA

MAKLUMAT No2 / MBKD

Berhubungan dengan keadaan perang maka berdasarkan Peraturan Pemerintahan No 30 dan 70, kami maklumkan berlakunya Pemerintahan Militer untuk seluruh Pulau Jawa.

Dikeluarkan : ditempat

Pada tanggal : 22 Desember 1948

Pada jam : 08.00

Panglima Tentara dan Teritorium Jawa

ttd

(Kolonel A.H. Nasution)

Sehingga Pelaksanaan Pemerintahan Militer di Daerah Istimewa Yogyakarta berpedoman pada Peraturan Pemerintah No 33 tahun 1948, tentang Pemerintahan Militer di daerah Jawa yang menyatakan bahwa badan dan jawatan yang penting dimiliterisasi dan berlaku hukum militer baginya. Pelaksanaan pemerintahan militer di daerah Yogyakarta yang bersumber pada peraturan pemerintah sejalan dengan instruksi Panglima Tentara dan Teritorium Jawa(PTTD) Nomor 1/MBKD/1948 tanggal 25 Desember 1948 tentang struktur pemerintahan militer seluruh Jawa. Susunan Pemerintahan Militer sesuai intruksi antara lain[14]:

1) Panglima Besar Angkatan Bersenjata

2) Panglima Tentara dan Teritorium Jawa

3) Gubernur Militer

4) Komando Militer Daerah

5) Komando Distrik Militer

6) Komando Onder- Distrik Militer

7) Kader Desa

8) Kader Dukuh

Pemerintahan militer yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan sesudah agresi militer Belanda II, yang bertujuan untuk mengusahakan adanya Pemerintahan yang tegas dan mampu.mengadakan, gerakan atau operasi militer dalam menghadapi Belanda. Dalam keadaan biasa mereka sebagai jembatan untuk menghubungkan militer dengan sipil, dalam pemerintahan militer mereka sebagai alat pemerintahan bersama-sama Pamong Praja yang mengendalikan pemerintahan militer di bawah instasi militer.

Adapun susunan pemerintahan militer khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakarta adalah: [15]

a. Daerah Keresidenan Yogyakarta sama dengan Komando Militer Yogyakarta (KMDJ) atau Sub Tertorium Militer Yogyakarta.

b. Daerah Kabupaten sama dengan Kepala Pemerintahan Militer Kabupaten (PMKB)/ Komando Distrik Militer(KDM).

c. Daerah Kapanewon (kecamatan) = Kepala Pemerintahan Militer Kecamatan (PMKT). Pemerintahan militer hanya sampai kapanewon, dan yang menjabat kepala Pemerintahan Militer adalah seorang militer (KODM).

Meskipun ada perbedaan dalam susunan struktur pemerintahan militer di daerah Yogyakarta, yang disesuaikan dengan keadaan wilayah dan aspek politik pemerintahan daerah Yogyakarta. Namun pada hakekatnya pemerintahan militer tetap sama sesuai instruksi PTTD. Dalam menyusun pemerintahan militer khususnya pada tingkat staf meliputi beberapa aspek:

1. Umum yang menyangkut organisasi seperti: kehakiman, kepolisian, dan perhubungan.

2. Perekonomian meliputi cadangan pangan, keuangan, dan pengarahan dana serta koperasi

3 Kemasyarakatan mencakup masalah penerangan rakyat, pendidikan, kesehatan serta kesejahteraan pengungsi

4. Pertahanan meliputi: bidang militer, kader militer di desa, perang semesta dan komunikasi.

Setelah dibentuknya MBKD di seluruh Pulau Jawa oleh Kolonel A.H. Nasution, Sri Sultan melakukan kontak dengan Panglima Besar jendral Sudirman kemudian Jendral Sudirman menyuruh Sri Sultan untuk menghubungi Letkol Suharto untuk mengadakan serangan balasan, dengan dikeluarkan perintah kilat yang dibuat oleh Panglima Besar Jendral Sudirman, dimulailah pelaksanaan perang gerilya terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta, isi Perintah kilat berbunyi[16]:

Perintah Kilat

No 1/PB/D/48

1. Kita telah diserang

2. Pada Tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang Kota Yogyakarta dan Lapangan Terbang Maguwo.

3. Pemerintahan Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata

4. Semua angkatan bersenjata(perang) menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi Belanda (lihat lampiran koran hal 53)

Sesudah perintah kilat dikeluarkan maka dimulailah serangan balasan terhadap Belanda di Yogyakarta yang kemudian disebut dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dan secara tidak langsung masyarakat Yogyakarta memberikan perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta yaitu dengan mengadakan Serangan Umum yang dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Hubungan dengan Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah membantu perjuangan para pemimpin politik Indonesia yang berjuang demi mendapatkan kedaulatan, supaya Indonesia bisa menjadi Negara yang merdeka maka dari itu situasi politik sangat membantu dalam pembentukan pemerintahan militer maupun sipil guna mengamankan wilayah Yogyakarta dan juga mendukung diadakannya Serangan Umum 1 Maret 1949 dan juga menunjukan bahwa TNI masih ada dan masih bisa mengamankan wilayah Indonesia serta Pemerintahan Indonesia.

II. Situasi Ekonomi, Sosial dan Pendidikan Setelah Agresi Militer Belanda II

a. Bidang Ekonomi

Keadaan kota Yogyakarta setelah Agresi Belanda II keadaan ekonomi semakin kacau dan rakyat menderita kelaparan(data statistiknya kurang sehingga pada waktu sebelum terjadinya serangan umum masih adanya status quo dari Belanda), sehingga rakyat Yogyakarta melakukan siasat untuk mendapatkan bahan pangan dengan jalan gerilya atau menghadang garis supply musuh sehingga lambat laun untuk mengembalikan daerah de facto Republik dengan patroli dari masyarakat kita, dengan begitu pemerintaha militer membantu situasi ekonomi dan social. Dan inilah tugas dari KODM( komando onder daerah militer), dan tugas dari KODM adalah terpaku pada daerah dan dengan jalan memperhebat ekonomi dan mempersiapkan supply angkatan perang yang ada atau melalui daerahnya. Dengan begitu bisa membantu situasi ekonomi masyarakat Yogyakarta sebelum Serangan Umum 1 Maret 1949 yang semakin hari kebutuhan pokok naik dan juga adanya dua alat pembayaran yaitu: mata uang belanda(Gulden) dan ORI yang membuat masyarakat kelaparan, dari situlah Sri Sultan Melihat keadaan Masyarakat Yogyakarta yang menderita setelah Agresi Belanda II. [17] Sedangkan sektor dari segi perekonomian yang sangat besar jasanya pada masa perjuangan, khususnya setelah Belanda menyerang Yogyakarta yakni bidang pertanian. Selama masa perjuangan bersenjata boleh dikatakan tidak ada sumber ekonomi yang masih hidup selain pertanian, maka para petani memegang peranan penting di karenakan untuk menjadi tempat berlindung bagi para pengungsi dari kota dan juga menjadi sumber logistik para pejuang.

Hubungan dengan Serangan Umum adalah dengan situasi ekonomi yang kacau balau sehingga membuat rakyat Yogyakarta mengambil tindakan untuk mengadakan Serangan balasan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap Belanda yang kemudian terkenal dengan Serangan Umum 1Maret 1949, dan mendukung Serangan Umum 1 Maret 1949.

b. Bidang Sosial dan Pendidikan, Kesehatan

Keadaan masyarakat sangat menderita terutama keluarga prajurit kita, dikarenakan akibat dari agresi Belanda, sehingga mendapatkan perhatian khusus dari KODM(Komando Operasi Daerah Militer) bagian social, maksud kalimat ini para keluarga prajurit mendapat perhatian khusus dari KODM bagian social guna menghibur keluarga yang ditinggal pergi salah satu anggota keluarganya demi Negara. Maka perlu diadakan usaha-usaha:

a. Mengadakan rumah hiburan bagi prajurit-prajurit untuk melepas lelah dan sedikit mendapat hiburan

b. Pada hari besar / nasional supaya mengadakan ziarah ke makam pahlawan, mengunjungi prajurit yang terluka dan memberikan hiburan untuk mendorong semangat perjuangan.

Dalam bidang sosial mengalami kesulitan bagi para pengungsi yang kurang mendapatkan kesejahteraan sosial.[18] Dan juga dengan pendidikan tidak boleh diabaikan di dalam kancah perjuangan sehingga pendidikan dapat di bagi dua:

1) Pendidikan di bangku sekolah

2) Pendidikan yang didapat dari praktek( dari masyarakat)

Pendidikan pada waktu itu masih kurang dikarenakan para pelajar dikerahkan untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia, dan juga sebelum terjadi Serangan Umum, pendidikan masih kurang mendapat perhatian dari pemerintahan Sipil dan Militer. Begitu pula dengan kesehatan yang minim peralatan sehingga banyak para pejuang yang meninggal dan juga obat-obatan, Sehingga kesehatan masyarakat maupun kurang diperhatikan, dan mulai muncul wabah penyakit sehingga mulai membentuk / membuat puskesmas untuk menampung masyarakat yang terkena wabah penyakit.

Begitu pula dengan kesehatan rakyat yang tidak dapat dipelihara dan dapat mengakibatkan kemunduran potensi dari kekuatan pertahanan dan pemerintahan militer, sehingga mengakibatkan banyak pengungsi yang terserang penyakit, maka dari dijalankan percobaan penyelenggaraan kesehatan rakyat.Dengan keadaan yang seperti ini masyarakat menjadi kelaparan dan kurangnya pendidikan sesudah agresi Belanda II dan sebelum Serangan Umum 1 Maret 1949. Yang kemudian terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 dimana para pejuang saling membantu untuk mengusir Belanda dari daerah Yogyakarta.

Hubungan dengan Serangan Umum yaitu saling mendukung dikarenakan serangan terjadi adanya reaksi dari masyarakat yang ingin terbebas dari penjajahan dan juga dapat dilihat dari situasi ekonomi, politik, pendidikan yang masih kurang terpenuhi pada masa pendudukan Belanda dan semakin kacau balau. Sehingga membuat seluruh lapisan masyarakat melakukan Serangan balasan terhadap Belanda.

Sebelum terjadi Serangan Umum, keadaan kota Yogyakarta semakin buruk dikarenakan keamanan yang tidak stabil dan bertambahnya jumlah pengungsi dari luar Yogyakarta dan kekurangan bahan pangan serta yang paling mengganggu dalam bidang ekonomi adalah alat pembayaran yang terbagi yaitu mata uang Belanda dan ORI. Kemudian daerah Yogyakarta membentuk pemerintahan sipil dan militer, pemerintahan sipil ini digunakan sebagai penghubung antara kepala daerah setempat dengan wakil kepala daerah yang dilaksanakan oleh Jawatan Praja. Sedangkan pemerintahan militer digunakan untuk mengadakan operasi militer dalam menghadapi Belanda sehingga pihak Indonesia melakukan strategi perang gerilya dalam menghadapi Belanda dengan mendirikan pos-pos operasi gerilya dan wilayah penyerangan dalam kota, pemerintahan militer ini dibawah pimpinan Kolonel Abdul Harris Nasution dengan membentuk MBKD(Markas Besar Komando Daerah) khusus daerah Jawa, dan ide ini(Serangan) dari Sri Sultan sendiri dikarenakan dia melihat.nasib masyarakat Yogyakarta dan semua daerah yang ingin bebas dan merdeka dari pendudukan Belanda di Yogyakarta. Dan dengan dikeluarkan Perintah kilat dari Panglima Besar Jendral Sudirman maka dimulailah Serangan balasan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dan dari dikeluarkan perintah kilat inilah Serangan Umum 1 Maret 1949 terjadi di daerah Yogyakarta.

BAB III

PERKEMBANGAN TERJADINYA

SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

Pada penjelasan bab III ini penulis ingin menjelaskan tentang perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam hal ini penulis ingin menjelaskan beberapa bagian diantaranya:

a. Rencana Persiapan

isinya yaitu mengenai kondisi wilayah Yogyakarta yang mendukung Rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 dan juga adanya resolusi dari Dewan Keamanan PBB sehingga rencana persiapan Serangan Umum bisa dilaksanakan.

b. Persiapan Operasi

isinya yaitu mengenai persiapan untuk melakukan Serangan baik di letak untuk mengepung pasukan Belanda maupun tempat untuk membahas serangan balik ke pasukan Belanda.

c. Pelaksanaan Operasi

isinya mengenai hari pelaksanaan, sebelum pelaksanaan adanya dua Insiden, serta empat tempat untuk mengepung pasukan Belanda di wilayah Yogyakarta.

Maka dalam perkembangan Serangan Umum ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

A. Rencana persiapan

1. Situasi yang mendukung Rencana Serangan Umum 1 Maret 1949

a). Penerjunan pasukan payung Belanda pada tanggal 19 desember 1948 di maguwo benar-benar pendadakan besar bagi TNI, sebelumnya TNI memperkirakan pasukan Belanda akan menyerbu Ibukota Yogyakarta dari arah barat. Maka sebagian pasukan Letkol Soeharto digeser kearah barat untuk menghadang pasukan Belanda yang kemungkinan besar pasukan belanda lewat arah Bandung- Gombong-Kebumen- Puworejo dan poros Semarang- Ambarawa- Magelang- Yogyakarta. Dengan lemahnya pertahanan kota Yogyakarta, membuat Belanda 2dengan Cepat masuk ke kota. Mengingat kota Yogyakarta sebagai Ibukota RI, Letkol Soeharto berpendapat, apabila jatuh ke tangan Belanda akan berpengaruh besar terhadap perjuangan secara keseluruhan. Dan ternyata Ibu kota Yogyakarta amat mudah diduduki oleh Belanda, sehingga hal ini yang dikhawatirkan akan mengendurkan perjuangan TNI di daerah-daerah lainnya.

Di samping itu, dapat menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap TNI, khususnya kepada Brigade 10 yang mengawal ibu kota RI Yogyakarta. Pada umumnya rakyat tidak mengetahui bahwa pasukann Brigade 10 hampir seluruhnya berada di luar kota. Untuk meningkatkan perlawanan dan memulihkan kepercayaan rakyat, maka Letkol Soeharto bertekad untuk melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta.

b) Resolusi DK PBB yang dikeluarkan pada tanggal 28 januari 1948 yang menyatakan agar Belanda secara de facto meninggalkan wilayah RI tidak taati dan tidak dilaksanakan. Sebaliknya Belanda melancarkan propaganda bohong untuk mengelabui mata dunia Internasional, dengan mengatakan bahwa tindakan yang dilakukannya terhadap RI bukanlah tindakan agresi, melainkan aksi polisional dan telah berhasil dengan baik. Dan Belanda mengatakan bahwa Yogyakarta telah berhasil diamankan, pemerintahan telah berhasil dikuasai, Soekarno dan Mohammad Hatta serta sejumlah pemimpin lainnya telah ditawan, dan para ekstrimis (yang dimaksud adalah TNI) telah berhasil dihancurkan. Dan kehidupan rakyat telah berjalan lancar serta melakukan kegiataan sehari-hari seperti biasa.

Sementara itu pertikaian antara pihak Indonesia dengan Belanda akan disidangkan lagi oleh Dewan Keamanan PBB pada bulan Maret 1949, berita tentang perdebatan itu di Dewan Keamanan PBB berhasil di monitor oleh Komandan PHB WK III Mayor Poerhadi melalui siaran Berita All India Radio.[19] Ketika itu Sultan Hamengku Buwono IX mendengarkan berita luar negeri pada akhir bulan Febuari dan awal bulan Maret 1949 tentang masalah Indonesia dengan Belanda yang akan dibicarakan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bagaimana cara memberitahukan kepada dunia Internasional bahwa Republik Indonesia masih hidup, bahwa Belanda sama sekali tidak menguasai keadaan seperti yang ingin mereka kesankan? Kemudian Ia (Sultan Hamengku Buwono IX) mendapat satu akal (PELURUSAN). Namun ia (Sultan Hamengku Buwono IX) harus cepat bertindak, waktu telah mendesak, ketika itu telah pertengahan febuari. Dengan segera ia mengirim kurir untuk menghubungi Panglima Besar Jendral Sudirman di persembunyiannya(Sri Sultan Hamengku Buwono menulis surat), untuk meminta persetujuan untuk melaksanakan siasatnya dan langsung menghubungkan komandan gerilya. Pendek cerita, Sultan Hamengku Buwono IX kemudian berhasil mendatangkan komandan gerilya yakni Letnan Kolonel Suharto. Kemudian disusunlah siasat untuk mengadakan serangan umum, suatu kejutan yang diharapkan akan menggugah kembali semangat rakyat Yogyakarta, sekaligus untuk membuktikan kepada dunia Internasional bahwa Republik Indonesia masih hidup dan memiliki keinginan untuk merdeka yang tak dapat dibendung, dari gagasan itu terjadilah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin langung oleh Letkol Soeharto dan Sultan Hamengku Buwono IX, dan membuktikan pada dunia Internasional bahwa TNI masih ada dan mampu merebut Kembali Yogyakarta dari tangan Belanda.[20]

Ide yang memberikan untuk melakukan serangan umum ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri, dikarenakan ada beberapa fakta yang nyata dan dicoba dibantah lagi (Garda”Lembaran Khusus”ketemu Sultan setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 No 07/I.153/4 April 1999):

………Selain itu saya dibikin jengkel oleh sebutan Belanda bahwa tentara kita ekstrimis dan sudah kuncar-kancir lalu apa yang bisa digunakan oleh para delegasi kita di PBB untuk menjawab kampanye Belanda tersebut maka saya memutuskan, Ibu Kota Yogyakarta harus bisa direbut kembali kemudiian Belanda dan dunia tahu bahwa TNI masih mampu melakukan, jadi serangan dialihkan dari malam ke siang hari meski hanya 2 jam, tujuannya memang untuk mendukung perjuangan diplomasi kita di PBB. Kemudian sasaran psikologis kalau kita mampu menyerang, menandakan TNI masih ada. Ini juga dimaksudkan untuk membangkitkan perlawanan dari satuan di daerah lain…..kalau kemudian ada orang yang mengatakan ide serangan umum 1 maret 1949 bukan saya (Sultan Hamengku Buwono IX) ya terserah. Tapi yang harus diingat saya (Sultan Hamengku Buwono) yang memimpin dan melaksanakan rangkaian serangan tersebut, kalau ada orang yang mengatakan itu bukan ide saya boleh-boleh saja, tapi kalau ide itu tidak dilaksanakan, tentu hanya ide setelah dilaksanakan baru orang mencari siapa yang punya ide, inikan aneh……[21]

Sehingga jelas sekali bahwa yang memberikan ide untuk melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Sultan Hamengku Buwono IX sendiri, bukan Letkol Soeharto, namun Sri Sultan sendiri yang mengirim surat kepada Pangsar Soedirman untuk meminta ijin melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di wilayah Yogyakarta dan merebut kembali Ibu Kota Yogyakarta.

B. Persiapan Operasi

Dalam hal ini membutuhkan persiapan yang matang untuk melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di Yogyakarta. Persiapan operasi yang dilakukan sesuai dengan rencana operasi, sebelum Serangan Umum dilakukan, terlebih dahulu pasukan RI meningkatkan serangan terhadap pasukan Belanda yang berada diluar Yogyakarta untuk menekankan pasukan Belanda agar tidak memberikan bantuan ke dalam Yogyakarta. Serangan tersebut dimaksudkan untuk mengelabui pasukan Belanda atas Serangan Umum yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949, supaya Serangan Umum dapat berjalan lancar tanpa ada hambatan dan sesuai rencana, usaha ini sangat diharapkan WK III dapat menjamin kerahasian dan memperoleh pendadakan, kecuali meningkatkan serangan. Dalam persiapan operasi dilakukan pula pemeriksaan pasukan untuk mengetahui dengan pasti akan kesiapan pasukan WK III. Tanggal 13 Febuari 1949 komandan WK III Letkol Soeharto meninggalkan markas komando Segoroyoso bergerak ke arah barat melalui Gandok, Ganjuran, Kretek, Panjatan sampai di Sentolo. Dari sini Letkol Soeharto memimpin serangan terhadap kedudukan Belanda di Bantar dari arah barat. Pasukan yang dikerahkan adalah pasukan SWK 103 A, SWK 106, Yon 151 dan kompi Soedarsono Bismo yang dibantu oleh 1 peleton Al yang dilengkapi dengan 12,7 mitraliur watermantel dan senjata berat lainnya.[22] Setelah persiapan selesai dilakukan maka diadakan pertemuan antara Sri Sultan dengan Letkol Soeharto di tempat kediaman Keluarga B.P.H Prabuningrat(Prabuningratan Kraton Yogyakarta) yang digunakan untuk membahas tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.[23]

C. Pelaksanaan Operasi

Sebelum diadakan pertemuan tersebut maka dikeluarkannya perintah kilat oleh Panglima besar Jenderal Sudirman, dan kemudian diadakan pertemuan maka segera dimulai pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 di wilayah Yogyakarta :

1) Insiden Menjelang Pelaksanaan Serangan Umum

a) Insiden Komaroedin

Dalam insiden ini rencana pelaksanaan mengalami kebocoran yang semestinya dilaksanakan tanggal 28 Febuari 1949 diubah tanggalnya menjadi tanggal 1 Maret 1949. sehingga terjadi insiden komaroedin dikarenakan Letnan Komaroedin salah perkiraan tentang serangan balasan terhadap Belanda di Yogyakarta. Yang kemudian Letnan Komaroedin melakukan serangan terhadap Belanda yang bertepatan dengan bunyi sirene tanda jam malam Belanda berakhir kemudian peleton Komaroedin menyerang pos pertahanan Belanda di sekitar Kantor Pos Besar di sebelah Utara Yogyakarta, kemudian bertahan di sekolah Keputran. Serangan yang dilakukan Komaroedin sangat mengejutkan dan mendesak pasukan Belanda yang bertahan di pos dan mengirim berita untuk meminta bantuan, tidak lama pasukan lapis baja Belanda datang yang langsung menghamburkan peluru ke arah pasukan gerilya, dan memaksa pasukan Komaroedien untuk bertahan dan menyebar serta berlindung. Kemudian Letnan Soegijono menyarankan agar Letnan Komaroedin segera menarik pasukannya keluar kota sebelum Belanda bertindak lebih jauh dan dapat mempengaruhi keseluruhan rencana Serangan Umum.

Sehingga Letnan Komaroedin memerintahkan pasukannya untuk mengundurkan diri ke posisi awal sambil memencar, Belanda memanfaatkan gerakan lepas-libat peleton Komaroedin dengan mengerahkan tank dan panser untuk melakukan pengejaran. Di sela-sela tembakan senapan mesin Belanda, pasukan Komaroedin terus mundur secara terpencar menuju empat posisi. Sebagian Pasukan menyusup ke Mesjid Kauman di sebelah barat Alun-alun Utara, sebagian menuju Tamansari. Sebagian lagi ke arah timur menuju Gondomanan dan ada yang bertahan di Sekolah Dasar Keputran di pojok tenggara Alun-alun Utara. Maka dari itu Belanda mengadakan pembersihan di rumah penduduk dan perkampungan sekitar Alun-alun Selatan dan daerah Tamansari.[24]

b) Insiden Giwangan

Di daerah Yogyakarta bagian timur telah terjadi kesalahpahaman, saat serangan yang dilancarkan pukul 06.00 pada tanggal 1 Maret 1949, dilaksanakan pada pukul 06.00 sore pada tanggal 28 Febuari 1949. Dengan begitu satuan yang membuat kekeliruan pada jam empat sore tanggal 28 Febuari 1949 telah mengambil posisi di desa Giwangan. Tanpa menyadari kekeliruan, mereka memutuskan jaringan telepon yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Kotagede, sehingga gerakan mereka diketahui Belanda dengan segera mengerahkan konvoi tank dengan brencarier. Maka terjadi kontak senjata sehingga Belanda membuat pasukan RI kalangan kabut, dalam Insiden ini seorang prajurit Belanda tewas dan pihak TNI 2 orang gugur yaitu Soekro dan Soedarsono. Sehingga kedua Insiden tidak mempengaruhi rencana secara keseluruhan.[25]

2) Gerakan Mendekati Daerah Sasaran

a. Pada tanggal 28 Febuari 1949 pasukan WK III Janur Kuning bergerak meninggalkan markas menuju pinggiran kota Yogyakarta. Sementara pasukan yang lain mempersiapkan diri untuk melaksanakan Serangan Umum 1 Maret 1949. yang kemudian pelaksanaan Serangan Umum ditempatkan di desa Segoroyoso kemudian di dipindahkan ke markas Bibis hal ini dilakukan agar lebih mempermudah berhubungan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan bisa mendekati kota yang berjarak hanya 2,5 km dari kota, dengan koordinasi maka para SWK membentuk sector-sektor pertahanan:

a. Daerah barat dipimpin Mayor Ventje Samual

b. Daerah selatan dan timur dipimpin Mayor Sarjono

c. Daerah utara dipimpin Mayor kusno

Dan penugasannya di setiap sector adalah sebagai:

1) Sector 1dan 2 membantu SWK 102

2) Sector 3 dan 4 membantu SWK 103

3) Sector 5 dan 6 membantu SWK 104

4) Kecuali membantu SWK 103 A dan 103, sector 3 juga bertugas sebagai bantuan Umum dan dikendalikan oleh komandan SWK 101 Lettu Marsoedi.[26]

Dalam melakukan pelaksanaan menjelang Serangan Umum 1 Maret 1949, para SWK melakukan persiapan keperluan pasukan atas perintah Letnan Amir Murtono dan Letnan Marsoedi untuk menyiapkan sarana dan prasarana termasuk perbekalan dengan melibatkan 2000 personil dari WK III dibantu TNI, polisi / Mobile Brigade, kelaskaran dan diperkuat kompi Soewarno dar batalyon Daryatmo Muntilan, Kompi Soedarsono Bismo dari Yon Soeharjono dari Purwerejo, Ton Soelaksono dari Yon Soeharjono dan WK I Divisi II / GM II Klaten, skenario ini dibuat SWK 101 tersebut meliputi wilayah operasi dan pelaksanaan penyerangan[27]:

1. SWK 102 menyerang markas Belanda di kantor pos, kotabaru.

2. SWK 103 A menyerang Belanda di pingit, tugu, hotel tugu.

3. SWK 104 menyerang Belanda di kota baru, jetis, hotel merdeka dan juga markas Belanda di Tempel, beran, medari, prambanan

4 SWK 105 tanjung tirto, maguwo, kalasan dan prambanan

5 SWK 103 membantu SWK 103 A

6 SWK 106 mengikat dan menekan kedudukan jembatan bantar dan mencegah bantuan Belanda ke wilayah Yogyakarta.

7. SWK 101 membantu penyerbuan dari sector-sektor tersebut dan sebenarnya di kalangan Belanda sudah beredar akan ada isu serangan secara besar-besaran untuk menyerang pos-pos belanda di Yogyakarta. (lihat lampiran peta hal 48).

3) Pelaksanaan Serangan Umum

Pada tanggal 1 Maret 1949 pukul 06.00, bersamaan dengan bunyi sirene tanda jam malam berakhir, para satuan gerilya serentak ke luar dari kedudukannya. Dengan tekad yang membara dan semangat yang tinggi masing-masing satuan gerilya dibawah komandannya bergerak menyerbu sasaran yang telah ditentukan, dengan yakin bahwa serangan mereka akan berhasil. Sehingga kota Yogyakarta diserbu oleh para gerilyawan dari empat jurusan:

a) Dari arah utara. Pasukan SWK 102 dipimpin oleh Mayor Sarjono bergerak ke arah utara menuju Gading lewat terowong dan saluran air masuk komplek Kraton Alun-alun Selatan, SD Kaputran menuju pagelaran, kompi Sumarno masuk ke Yogyakarta melalui Krapyak, Plengkung, Gading dann Alun-alun Selatan sampai disini dibagi 2 sebagian ke Barat dan ke Timur dan bertemu di keben (Bangsal) pergerakan mereka kurang lebih jam 04.00 WIB. (lihat lampiran peta hal 51)

b) Dari arah timur. Pasukan SWK 103 A dipimpin oleh Mayor Ventje Samual bergerak darri timur menju ke Yogyakarta melewati tepian sungai Winongo masuk Ngampilan dan Notoyudan dan SWK 103 pimpinan Letkol Soehoed. (lihat lampiran peta hal 52)

c) Dari arah selatan Pasukan SWK 104 dipimpin oleh Mayor SoeKasno kearah Selatan dan ke arah Utara yang terdiri dari:

i. Pasukan A Letda Wiyogo:

ü Peleton Kadet Soejanadi dari Prambanan menuju Maguwo dan bertemu dengan pasukan Daryatmo dari Muntilan membantu WK III

ü Peleton Nawawi, Arman, Soeparno menuju Demangan dan sampai disana pukul 24.00

ii. Pasukan B dari Pondok Suruh Pakem jam 14.00 tiba di pinggiran kota dan istirahat di dapur umum serta menyebrang jalan besar Yogyakarta – Surakarta di Pengok ke stasiun Lempuyangan jam 20.00 (5 peleton).

iii. Pasukan C (3 peleton) Sudarsono, A Suratno, Aliadi bergerak dari Rejodani (ngepos) menuju Blunyah, Pasiraman, Jetis, dan tiba pukul 05.45 (peleton 2) dan peleton 1 dan 3 Beran, Medari dan Tempel. (lihat lampiran peta hal 49)

d) Dari arah barat. Pasukan SWK 105 dipimpin oleh Mayor Sarjono bergerak dari Srimartani mendekati Maguwo, Tanjung Tirto, Prambanan/ Kalasan dan mengirim peleton Pratelo ke Yogyakarta dari arah Timur masuk ke Yogyakarta. (lihat lampiran peta hal 50 )

e) SWK 106 Letkol Soedarto dari Nanggulan (Ton Pengawal) Sentolo (Noermuunir) dan Wates (gerilyawan desa) dan tiba di Bantar/Klangon. 26

Dan mendapatkan bantuan dari Kapten Soedarsono Bismo dan Mayor Soeharjo dan diperkuat Angkatan Laut serta diperbantukan di SWK 102, Pasukan Mobile Brigade Kompi militer Soebroto Darsoprayitno memperkuat SWK 103A tiba pukul 24.00. Kompi Polisi M. Ajatiman dari Moyudan masuk Yogya sampai sekitar asrama polisi Pathuk pukul 01.00, pukul 24..00 MB Godean yang diperkuat SWK 103. Dari arah utara Kompi Polisi(gabungan TNI, Polisi, Palang Merah Indonesia, Tentara Pelajar, Laskar) menuju ke Yogyakarta pukul 22.00, menuju Blunyah Gede gabungan SWK 104 dari laskar Hisbulah. Tentara pelajar, kelompok pejuang serta Soewarno dari Yon Daryatmo. Atas jalannya konvoi gerilyawan ini lebih lancar dikarenakan adanya petunjuk penggabungan sector I dan II membantu SWK 102, sector III dan IV membantu SWK 103A, sector III sebagai pembantu umum oleh komandan SWK 101, sector V dan VI membantu SWK 104 sedangkan SWK 101 bergabung dengan pasukan hantu maut pimpinan Basuki Widodo yang bertugas menghambat bantuan pasukan Belanda yang datang dari Pleret dan Kotagede.

Sehingga dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 berjalan lancar, dan pagi-pagi sekitar jam 04.00 pos-pos Belanda yang di perbatasan kota Yogyakarta telah ditembaki. Tepatnya pukul 06.00 dipelbagai tempat di kota terjadi penembakan secara hebat. Dua serangan telah dilakukan oleh gerombolan – gerombolan kuat dari arah barat dan percobaa serangan ke tiga dilakukan dari arah selatan. Dengan demikian pihak Belanda mengambil tindakan untuk menghalau serangan tersebut, dan dalam waktu 6 jam kota Yogyakarta dapat dikuasai oleh pasukan TNI sehingga kota Yogyakarta dipenuhi oleh pasukan gerilyawan. Setelah menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam maka para pasukan gerilyawan mengundurkan diri setelah mendengar bahwa pasukan Belanda dari Magelang datang ke Yogyakarta untuk melakukan pembersihan terhadap pasukan TNI yang masih berada di wilayah Yogyakarta.

4) Usaha Membendung Bantuan Pasukan Belanda.

a. Dalam keadaan cemas dan gelisah, di dalam markas pertahanannya tentara Belanda melalui hubungan radio meminta bantuan pasukan dari Semarang dan Magelang. Beberapa satuan TNI masih mencoba mengganggu da menerobos pertahanan Belanda. Pukul 11.00 bantuan dari Magelang tiba di Yogyakarta setelah berhasil mengatasi hambatan yang dilakukan oleh Peleton I dan III Kompi Martono dan kesatuan Brigif 9 di beberapa jalan sepanjang Magelang-Yogyakarta. Kedatangan pasukan Belanda di dalam kota Yogyakarta disambut dngan tembakan gencar pasukan TNI uuntuk mencooba menghambat gerak maju pasukan Belanda namun usaha mereka sia-sia karena pasukan Belanda berhasil mengatasi brikade yang dipasang oleh TNI dan terus maju menuju kota Yogyakarta.

Menjelang pukul 13.00 pasukan gerilya TNI mulai bergerak meninggalkan kota Yogyakarta, sedangkan pasukan Belanda berusaha mencegah pasukan gerilya meninggalkan kota Yogyakarta. Mereka ingin menghancurkan TNI, sehingga gerakan lepas-libat TNI dikejar kendaraan temour Belanda yang memuntahkan tembakan otomatis 12,7 dan menutupjalan pengunduran. Beberapa pesawat terbang Belanda membantu pengejaran dengan melancarkan pemboman dan straffing (pemboman dan penembakan dengan senjata dengan senjata otomatis). Untuk menghindari kehancuran, pasukan TNI mundur secara berpencar sambil mengadakan perlawanan, beberapa satuan mencoba menembus kepungan Belanda dengan serangan geranat. Pada umumnya TNI meninggalkan Yogyakarta ke Selatan lewat Pagelaran dan ke barat lewat kali Winongo.

b. Pasukan Belanda terus bergerak ke selatan, menerobos hadangan TNI dan maju menduduki Alun-alun utara.pasukan Belanda yang tertahan oleh barikade yang dipasang oleh pasukan TNI di wilayah kraton berhasil membebaskan diri. Satuan kompi infanteri yang terdiri dari 3 peleton dilengkapi brencarrier dikerahkan Belanda untuk mengadakan pembersihan kota Yogyakarta bagian timur, namun semua sector TNI mendapat tekanan sehingga TNI tidak rela mundur begitu saja tanpa perlawanan.

c. Tugas Serangan Umum 1 Maret 1949 telah dilancarkan dengan baik, ternyata TNI masih kuat dan mampu mengalahkan tentara Belanda dalam serangan siang hari. Dikarenakan TNI dan rakyat bersatu menjadi kekuatan untuk melawan pasukan Belanda di wilayah Yogyakarta.

5) Menghadapi Tindakan Pembersihan Pasukan Belanda

a. Sebagian besar pasukan TNI telah meninggalkan kota Yogyakarta menuju pangkalan semula. Sebagian gerilyawan tetap berada di dalam kota, bersama rakyat militan setempat untuk mengadakan terbatas secara fisik maupun nonfisik. Colonel Van Zanten yang bermaksud mengahancurkan TNI di Yogyakarta menjadi geram karena terlambat datang, sehingga pasukan TNI lebih dahulu meloloskan diri dan pasukan Belanda berusaha membersihkan TNI yang masih tinggal di Yogyakarta kurang berhasil karena pasukan TNI telah membaur dengan masyarakat dan beberapa yang lari ke arah kraton namun pasukan Belanda tidak dapat mengejar dikarenakan Belanda masih menghormati wilayah kraton.

b. Sementara itu pasukan Belanda mensinyalir bahwa keberhasilan serangan TNI terhadap wilayah Yogyakarta telah disiarkan lewat pemancar radio di daerah Wonosari. Kecuali itu juga diyakini bahwa Pangsar Jendral Soedirman berada di daerah Wonosari, maka dari itu pada tanggal 10 Maret 1949 tentara payung Belanda dari Andir, Bandung dikerahkan untuk menyerbu wilayah Wonosari. Namun pada kenyataan serangan lintas udara besar-besaran dengan menggunakan 20 pesawat Dakota disamping manuver darat tidak menghasilkan apa-apa dikarenakan di daerah Wonosari tidak terdapat pemusatan kekuatan TNI pimpinan Pangsar Soedirman.27

Sehingga pasukan Belanda berhasil menduduki Wilayah Wonosari pada tanggal 10 Maret 1949. maka dengan adanya Serangan Umum tadi dapat diambil kesimpulan tentang tujuan dari serangan umum

Tujuan dari Serangan Umum yaitu:

§ Kedalam: mendukung perjuangan yang dilaksanakan secara diplomasi dan meninggikan moral serta TNI yang sedang bergerilya melawan pasukan Belanda.

§ Keluar: menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa TNI mempunyai kekuatan yang mampu mengadakan ofensif, dan mematahkan moral pasukan belanda. 28

Dengan tujuan inilah yang menjadikan latar belakang terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 yang mempunyai dampak politik yang sangat besar baik ke dalam maupun ke luar negeri sekaligus dapat membantu perwakilan kita di PBB. Dan TNI beserta rakyat telah berhasil menduduki wilayah Yogyakarta supaya dunia bisa mengetahui bahwa TNI masih ada dan terus menngadakan perlawanan terhadap Belanda.29

Dalam Serangan Umum yang dilakukan TNI bersama rakyat mempunyai sasaran untuk mengusir pasukan Belanda dari wilayah Yogyakarta yaitu:

§ Sasaran politik

Bertujuan memberikan dukungan moril kepada perwakilan Indonesia di PBB yang dipimmpin oleh L.N. Palar yang sedang mempersiapkan perdebatan meengenai masalah kemerdekaan Indonesia dalam menghadapi Belanda yang telah dengan sombongnya melancarkan kampanye tentang operasi miiliternya. Dan merupakan saat yang tepat untuk membongkar kesombongan dan kebohongan Belanda . TNI bersama rakyat Indonesia akan terus berjuang dengan gigih dalam mengusir penjajah dari wilayah Indonesia.

§ Sasaran Psikologis

Bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap tentara kebanggannya dan membuktikan kepada rakyat bahwa TNI benar-benar setia pada tugasnya berjuang menghalau musuh, supaya menjadi inspirasi bagi para pejuang yang berada di wilayah tanah air yang berkiblat proklamasi 17 agustus 1945.

§ Sasaran Militer

Bertujuan untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa TNI masih merupakan prajurit yang tertib, terkoordinasi, dan berdisiplin tinggi. TNI tidak hancur apalagi kacau balau seperti yang mereka katakan, dan membuktikan pasukan Belanda hanya beerhasil menduduki sebagian kota tertentu di suatu wilayah, yang dihubungkan oleh garis penghubung yang dijaga ketat. Diluar itu pasukan Belanda tidak mempunyai pengaruh dan sebaliknya kekuatan TNI yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat Yogyakarta dan seluruh wilayah Yogyakarta.

Dengan adanya sasaran penyerangan yang dilakukan oleh TNI berserta rakyat membuat pihak Belanda harus menarik mundur pasukannya dari wilayah Yogyakarta dan juga menyerahkan kembali kedaulatan RI ke tangan masyarakat Indonesia, supaya kota Yogyakarta berfungsi kembali sebagai Ibu Kota Republik Indonesia.

Perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta membawa berkah bagi masyarakat Yogyakarta karena kota Yogyakarta dapat berfungsi kembali sebagai Ibukota RI dan berhasil mengusir atau memukul mundur Pasukan Belanda dari wilayah Yogyakarta, sehingga membawa dampak bagi perekonomian negara RI dimana perekonomian bisa kembali berfungsi sedia kala secara bertahap.

Dan juga Politik Indonesia mendapat dukungan dari luar negeri, serta pasukan Belanda ditarik mundur dari Yogyakarta. Sehingga wilayah Yogyakarta kembali Aman dari pasukan Belanda, dari ketiga sasaran diatas perlu diketahui bahwa TNI masih ada dan juga berkat TNI Negara kesatuan Republik Indonesia bisa kembali berfungsi, serta menunjukkan kepada Belanda bahwa Indonesia masih ada kekuatan untuk melawan segala bentuk penjajahan di Indonesia.

BAB IV

AKIBAT DARI SERANGAN UMUM 1 MARET 1949

Pada bab IV ini penulis mau menjelaskan tentang akibat dari serangan Umum diantaranya:

1. Akibat Politik, Militer, dan Psikologis

Upaya dalam mencapai tujuan politik secara luas atas keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949, harus disebarluaskan ke seluruh pelosok daerah RI dan ke luar negeri, sebelum dilaksanakan Serangan Umum 1 Maret 1949 Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menyiapkan berita skenario jalannya operasi. Bersamaan itu pelaksanaan serangan umum disebarluaskan ke Luar negeri sehingga menarik perhatian Dunia, yang disiarrkan lewat Radio Auri di Playen,Wonosari, Gunung kidul. Dalam penyampaian berita ini ke luar negeri amat penting artinya dalam usaha untuk mencapai tujuan politik, berita tentang dilaksanakan Serangan Umum akan membuka mata dunia bahwa pemerintah RI masih berdiri danTNI masih utuh. Sedang rakyat Indonesia berjuang untuk memperoleh pengakuan kedaulatannya sehingga berita tersebut mematahkan manuver diplomatik Belanda dengan berita kebohongannya. Sehingga berita itu dikirim ke luar negeri bertepatan dengan Sidang Umum DK PBB yang akan membicarakan masalah Indonesia.

Sebagai akibat dari propaganda dan kebohongan Belanda, sebagian negara lain beranggapan bahwa negara RI dan TNI sudah tidak ada, dengan berakhirnya SU 1 Maret 1949 Yogyakarta berhasil memberi dukungan pada perjuangan diplomasi perwakilan RI di PBB seperti yang dijelaskan dalam uraian:

a. Pengaruh terhadap dunia Internasional

Duta besar Indonesia untuk PBB, Palar, yang terlibat dalam perdebatan politik dengan wakil-wakil Belanda di PBB dalam pernyataan Persnya di Paris antara lain menyatakan:

“Adalah politik Belanda untuk dengan sengaja menimbuulkan kesan, seakan-akan permusuhan di Indonesia akan berakhir dalam beberapa hari. Perjuangan secara gerilya baik di daerah Republik maupun daerah lain. Akan kian meningkat karena taktik kami tidak berdasarkan untuk mempertahankan kota-kota besar kita, sebagai kenyataan ialah pasukan-pasukan kita di Sumatra,dan di berbagai daerah telah mengambil inisiatif, kekhawatiran Belanda terhadap luasnya perjuangan gerilya telah tergambar di dalam pengumuman mereka tentang perlunya perpanjangan waktu untuk memulihkan ketertiban. Ramalan-ramalan Belanda itu telah meningkat dari tiga sampai enam bulan dan kini sampai sembilan bulan.3

sehingga dari penjelasan tersebut bisa menarik perhatian dunia bahwa pasukan TNI dan pemerintahan Indonesia masih ada, membuat pasukan Belanda harus berpikir keras karena pemerintahan RI mendapat dukungan dari dunia Internasional yang cukup besar semenjak Belanda melancarkan Agresi militernya yang ke dua pada tanggal 19 Desember 1948, dan membuat pihak BBC mewawancarai Sri Sultan yang isinya:

……yang saya pegang dan ini menjadi alasan bagi saya pertama-pertama untuk menaikkan semangat dari penduduk kita, kedua untuk mengadakan sesuatu yang menarik perhatian dunia oleh karena itu maka pada permulaan Febuari saya kirim surat pada pak Dirman (Panglima Besar) untuk meminta ijin agar mengadakan sesuatu serangan umum akan tetapi pada siang hari, Panglima Besar Sudirman menyetujui dan Sultan diminta untuk berhubungan langsung dengan komando yang bersangkutan yaitu Letkol Suharto…..31

Fakta tersebut akhirnya dijawab dengan jelas dan tegas oleh A.H Nasution tahun 1993 dalam bukunya Vikitiotis yaitu Indonesian Politik Under Suharto halamn 12-13 yang membenarkan pernyataan Sri Sultan yaitu:

jadi saya sangat mengetahui apa yang berlangsung, Sultan menulis surat kepada Jendral Sudirman. Dalam suratnya Sultan mengatakan bahwa Yogyakarta harus diserang, Panglima Besar Soedirman menjawab agar Sri Sultan menghubungi Suharto, komanda pasukan TNI setempat32

kiranya terlihat jelas bahwa benang merahnya adalah bahwa Sri Sultan minta ijin dahulu kepada Pangsar Soedirman atas ide serangan siang hari dan beliau menyetujui sahingga beliiau menyarankan utuk menghubungi Suharto. Hal inilah yang tidak pernah diakui pak Harto.33 maka dari itu Dewan Keamanan PBB mengeluarkan suatu “resolusi” yang mengatakan antara lain agar pertempuran dan permusuhan harus segera dihentikan, dan para pemimpin RI sagera dibebaskan tanpa syarat, serta pemerintah dikembalikan ke Yogyakarta. Namun resolusi dari PBB tidak diindahkan oleh pihak Belanda dengan dalih bahwa masalah agresi (Belanda menyebutnya aksi polisionil) militer tersebut adallah masalah dalam negeri Belanda, Belanda masih merasa memiliki kedaulatan atas seluruh wilayah Indonesia dan penyelesaian operasi militer terhadap sisa kekuatan RI dalam waktu tidak lama akan berakhir. Setelah Serangan Umum 1 Maret 1949, situasinya menjadi berbeda seperti yang telah disampaikan oleh surat kabar New York Times. Bahwa serangan gerilya makin memuncak dan berhasil, menyebabkan tekanan atas Belanda naik keras.

b. Pengaruh terhadap Pemerintahan Republik Indonesia

1) Terhadap rakyat (sosial-Ekonomi)

Akibat dari Serangan Umum, kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan TNI menjadi lebih besar, tidak hanya bagi pendudukan kota Yogyakarta, tapi sampai daerah pendudukan Belanda, khususnya di Jakarta. Hal ini dapat diukur dengan bertambah tingginya nilai uang RI (ORI) terhadap nilai uang Belanda. Dengan kepercayaan akan kemampuan dan semangat juang TNI yang lebih nyata dan berarti diperlihatkan rakyat adalah kesediaan mereka menerima pasukan TNI yang akan melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949 pada malam menjelang serangan dimulai. Mereka menerima dan memberikan mereka makanan dan minuman semampu mereka. Keikhlasan ini mereka untuk menyumbangkan apa saja yang mungkin mereka sumbangkan untuk perjuangan sangat mendukung perjuangan selanjutnya setelah Serangan Umum 1 Maret sampai pada penarikan Tentara Belanda dari kota Yogyakarta. Dan Presiden Soekarno menilai hasil Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai berikut:

Pada mulanya revolusi kami berjalan sangat menyedihkan, meskipun dengan jeritan diplomatic bahwa mereka (Belanda) yang telah memperkosa piagam PBB, Belanda berbuat seperti orang tuli. Mereka menduduki kota demi kota, keadaan kami sangat menyedihkan. Nampaknya seakan-akan Republik telah dihancurkan. Sampai tanggal 1 Maret 1949 pasukan gerilya merebut kota Yogyakarta, dan menduduki selama enam jam. Akan tetapi yang beberapa jam itu pun cukup lama untuk membuktikan kepada dunia, bahwa tentara Republik merupakan kekuatan vital yang pentang menyerah. 34

Dengan begitu kehidupan ekonomi dan sosial rakyat kembali seperti biasa, dan keadaan kota Yogyakarta kembali aman tanpa harus melawan pasukan Belanda. Sehingga fungsi kota Yogyakarta sebagai ibukota RI kembali normal.

2) Terhadap Militer

Pada Serangan Umum 1 Maret 1949 memiliki arti khusus bagi TNI, baik bidang organisasi, moril, semangat, dan kepercayaan diri untuk meneruskan pertempuran dan perjuangan. Sehingga organisasi Wehrkreise, subwehrkreise, sector dan pemerintahan militer, mulai dari STC, KDM, KODM mulai disempurnakan. Kemudian TNI berkembang dan menjadi kesatuan yang disegani oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

3). Terhadap Pemerintahan

Pemerintahan RI kembali pulih seperti sedia kala dan sudah mulai mengatur kehidupan social-ekonomi masyarakat Yogyakarta serta mengatur situasi politik pemerintah, sehingga kehidupan masyarakat kembali normal dan keamanan mulai ditingkatkan demi kesejahteraan dan keamanan masyarakat Yogyakarta.

c. Pengaruh Terhadap Belanda

1). Bidang Politik

Dampak dari Serangan Umum 1 Maret 1949, cukup besar dengan arah yang berlawanan dari tujuan agresi Belanda II. Di bidang politik yang diperkirakan akan dapat menghapuskan RI sama sekali ternyata gagal. Bahkan kaum federalis yang selama ini setia kepada Belanda, kini mulai memperlihatkan ketidaksenangan mereka. Sementara itu pembicaraan antara pemimpin RI yang ditawan di daerah Bangka dengan komisi penghubung BFO tanggal 3 Maret 1949 memberi hasil yang berupa kesadaran BFO bahwa Republik perlu dikembalikan lagi kedudukan dan pemerintahannya, selaras dengan resolusi Dewan Keamanan.

Akhirnya Belanda mau tak mau harus mengembalikan pemerintahan RI ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949.

2). Bidang Militer

Di bidang militer Belanda mulai mengecilkan arti Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan memberikan pengumuman:

Pada hari selasa tanggal 1 Maret pagi-pagi ± pukul 4, pos-pos Belanda yang berada di perbatasan kota Yogyakarta telah ditembaki. Tepat pukul 06.00 pagi di berbagai tempat di kota telah terjadi penembakan secara hebat. Dua serangan telah dilakukan oleh gerombolan kuat dari jurusan barat, sedang percobaan serangan ketiga dilakukan dari jurusan selatan, dimana letak kraton Yogyakarta. Dengan segera militer Belanda mengambil tindakan untuk menghalau serangan tersebut. Sebuah kolone yang dikirim untuk menghadapi gerombolan yang menyerang dari arah selatan dengan melalui kota yang menuju ke tempat yang terancaman itu mengalami penembakan dari bagian luar kraton dan setelah kolone itu berhasil mencapai tembok utara dari kraton bagian dalam, juga mengalami penembakan dari dalam kraton. Pada waktu itu pasukan Belanda ditembaki oleh penembak yang bersembunyi diatas pohon yang berada di halaman kraton dalam, maka dari itu komandan pasukan kolone meminta izin untuk memasuki kraton. Permintaan itu segera dikabulkan oleh Sri Sultan sendiri. Setelah Sri Sultan menerangkan bahwa di halaman kraton tidak ada anggota gerombolan penyerang, maka tidak diadakan penyelidikan lebih lanjut di dalam Kraton.

Kekacauan ini berakhir pada pukul 11.00 pagi. Ditaksir ±2000 orang anggota gerombolan yang berkeliaran di sekitar kota dan yang untuk kesempatan itu telah memusatkan tenaganya, telah turut serta dalam serangan bersama. Para penyerang yang sebagian bersenjata berat(kuat) di semua tempat telah diceraiberaikan dengan kerugian besar dan mereka pun terpaksa meninggalkan sejumlah besar senjatanya.

Di pihak Belanda telah tewas 5 orang, diantaranya 3 orang anggota polisi dan 14 orang mendapat luka-luka. Segera setelah pasukan Belanda melumpuhkan serangan tadi keadaan kota menjadi aman dan tentram kembali. Lalu lintas di jalan-jalan dan pasar berlangsung seperti kembali biasa. Pada waktu malam dan hari-hari berikutnya keadaan tetap tentram.35

3). Bidang Ekonomi

Dalam hal ini pihak Belanda mengalami kerugian yang cukup besar dari segi ekonomi dimana para penyerang (TNI) melakukan penyerangan di tempat-tempat vital terutama pada daerah perbatasan atau tempat perekonomian Belanda yang berada di daerah Yogyakarta, dari situlah Belanda mengalami kerugian baik material maupun non material.

Dalam hal ini secara psikologis serangan pendadakan telah menimbulkan kegoncangan moral maupun moril pasukan Belanda yang berada di Yogyakarta. Maka dari itu pihak Belanda datang ke kraton untuk membicarakan keadaan tersebut, dari pihak Belanda yang datang adalah Jendral Meier, Jendral Spoor datang ke Yogyakarta pada hari rabu 2 Maret membicarakan keadaan kota Yogyakarta yang telah dikuasai TNI, Kolonel Van Langen komandan Brigade di Yogyakarta menerangkan bahwa serangan tersebut telah diduga sebelumnya tetapi serangan itu telah diperhitungkan tidak akan mampu menduduki Yogya secara tetap, tapi kenyataannya kota Yogyakarta telah dikuasai penuh (seluruhnya) oleh pihak TNI. Sedangkan pihak penyerang dapat ditekan dengan menderita banyak kerugian baik jiwa maupun senjata. Dengan adanya Jendral Spoor beserta beberapa perwira tinggi lainnya selama satu hari lebih dapat dipastikan banyak hal yang harus dibicarakan di samping usaha memulihkan kembali semangat tentara Belanda di Yogyakarta.

Tujuan dari Serangan Umum 1Maret 1949 itu sendiri bukan untuk memusnahkan tentara Belanda yang ada di kota Yogyakarta, melainkan tujuan politis. Selain itu serangan umum ini membuat Belanda berpikir panjang untuk menguasai RI maka dari itu pihak Belanda melakukan penarikan pasukan dari wilayah Yogyakarta.

Dari tujuan Serangan Umum tersebut maka Pihak Belanda berpikir lagi untuk menguasai wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, maka dari itu pihak Belanda mulai melakukan penarikan pasukan dari wilayah Yogyakarta sebagai akibat Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI dan segenap masyarakat Yogyakarta.

2. Adanya Penarikan Tentara Belanda dari Yogyakarta dan Yogyakarta kembali berfungsi sebagai Ibukota Republik Indonesia

Dengan adanya tujuan serangan umum tersebut maka pihak Belanda dan Indonesia mengadakan perjanjian yaitu:

a) Persetujuan Roem-Royen

Salah satu Dampak yang berkelanjutan adalah tekanan-tekanan dunia Internasional terhadap Belanda untuk segera mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB pada tanggal 28 januari 1949 yang antara lain menghendaki dihentikannya segera pertempuran (ceasefire), dibebaskannya pemimpin Republik yang ditawan Belanda tanpa syarat, dikembalikannya kekuasaan RI di Yogyakarta. Sehingga pemerintahan Belanda sekuat tenaga berusaha untuk tidak mentaati resolusi tersebut. (lihat lampiran hal 54)

Kebijakan ini mendapat dukungan dari rakyat Belanda yang reaksioner, yang cemas melihat bertambah kuatnya posisi Pemerintahan RI yang mendapat dukungan kuat di Dewan Keamanan PBB maupun Sidang Umum PBB. Kekhawatiran rakyat Belanda dapat dilihat pada tajuk harian Trouw yang menulis antara lain:

”..............bahwa Ir Soekarno cs. Belum kembali ke Yogyakarta, mereka akui sbagai pembesar-pembesar Pemerintahan Republik, dengan demikian pemerintah(Belanda) menghancurkan aksi Militer.

Pendudukan Yogya dan penangkapan Ir Soekarno berarti hilangnya Republik. Kita telah mendesak dan beberapa anggota BFO pun mendesak supaya pemerintah menyatakan bahwa republik sudah tidak lagi.

Pemerintah menyuruh BFO berbicara dengan pembesar-pembesar Republik, seolah-olah tidak mengetahui bahwa pemimpin republik itu, meskipun sekarang ditahan, dengan Dewan Keamanan dibelakangnya dan dengan kemungkinan mereka melancarkan teror di kemudian hari, akan segera mempengaruhi BFO seluruhnya.

Keadaan sekarang menunjukkan beleid pemrintahan tentang Indonesia yang telah gagal sama sekali. Kita tidak berbuat apa-apa lagi dan membiarkan bangsa Indonesia bersusah payah sementara tentara kita menjadi ”tipis”;212 orang yang mati dalam waktu sebulan.36

Dengan demikianlah tekanan-tekanan internasional baik dilancarkan oleh Dewan Keamanan, Sidang Umum PBB, dari negara-negara sahabat di Asia, negara-negara blok timur maupun Blok barat dan dari BFO. Maka dengan terpaksa Belanda harus kembali ke meja perundingan, penjajakan udah dimulai semenjak tanggal 23 Maret dengan diterimanya resolusi kanada di Dewan Keamanan yang disebut” Pedoman Kanada” (Canadian Directive), dalam rangka membantu Belanda dan Indonesia mencapai tujuan dalam hal:

a. Pengembalian Pemerintahan RI ke Yogyakarta

b. Penghentian gerakan militer Belanda dan perang gerilya Republik.

c. Waktu dan syarat mengadakan konferensi di Den Haag untuk merundingkan penyelesaian akhir masalah Indonesia.

Pada tanggal 9 april 1949, Mr. Moh. Roem dan Dr. J.H. Royen, resmi ditunjuk oleh masing-masing pemerintahnya untuk memulai perundingan, perundingan sendiri dimulai pada tanggal 14 April 1949, dua hari sesudah Sidang Umum PBB memutuskan akan memperdebatkan masalah Indonesia di PBB jika Belanda dan Indonesia tidak mencapai kemajuan dalam melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB tanggal 28 Januari 1949.

Setelah melaksanakan beberapa kali perundingan di Jakarta maka pada tanggal 7 Mei 1949 telah disetujui suatu persetujuan permulaan mengenai ”Kembalinya Pemerintahan Republik ke Yogyakarta”, yang lazim dikenal sebagai Persetujuan Roem-Royen.

b). Penarikan Tentara Belanda dari Yogyakarta

Kontak antara pimpinan RI yang sedang melaksanakan perang Gerilya ditambah dengan kontak dengan Pimpinan RI yang ditawan Belanda di Pangkalpinang. Dan menghasilkan pengesahan mandat yang telah diberikan Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkoe Buwono IX, kemudian membentuk Staf Persiapan Pemerintahan Ibu Kota dan sebagai Kepala Staf ditetapkan Kolonel Djatikoesoemo. Demi mempelancar pengembalian Pemerintahan RI di Yogyakarta maka Komandan Wehrkreise III diperbantukan Letnan Marsoedi dan Letnan Moch. Dimjati( sesuai dengan surat kepada J.M. Menteri Negara Sultan Hamengkoe Buwono IX No.III/U/WK.III/49 tanggal 12 Mei 1949). Sejalan dengan perintah harian Panglima Tentara dan Teritorium Jawa No124/X/12.MOB/PH/49 tanggal 21 Mei untuk mengambil bagian seperlunya dan semestinya dalam memperlancar tugas yang diemban Staf Persiapan Pemerintahan Ibukota.

Dalam upaya kembalinya Pemerintahan RI di Yogyakarta sempat menimbulkan kesalahpahaman antara Sri Sultan Hamengkoe Boewono IX dengan Komandan WK III menolak untuk menandatangani berita acara serah terima kota Yogyakarta dari tentara Belanda kepada TNI. Untuk menjelaskan alasan tersebut maka Komandan WK III menghadap Sri Sultan Hamengkoe Buwono IX supaya masalah tersebut tidak menjadi rumit dan Komandan WK III tidak dituduh sebagai penghalang terwujudnya pengembalian Pemerintahan RI ke kota Yogyakarta.

Maka pada tanggal 17 Mei 1949 Komandan WK III menghadap dan diterima Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kraton, dalam pembicaraan tersebut Komandan WK III menjelaskan permasalahan dan posisi WK III dalam menghadapi perundingan dengan Belanda.

Berdasarkan wewenang yang dimilikinya, Komandan Wehrkreise III mengajukan syarat-syarat pelaksanaan ceasefire dan pengembalian Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut:

1. Dalam waktu yang bersamaan Tentara Kerajaan Belanda dan Tentara Nasional Indonesia mengadakan Perintah ”Local Cease fire.

2. Ini berarti Tentara Kerajaan Belanda dan Tentara Nasional Indonesia juga menghentikan operasi militer maupun operasi gerilya, termasuk menghilangkan ”hhhh Hinder Lagen”

3. Pasukan-pasukan Tentara Kerajaan Belanda dikonsinyasi untuk yang ada diluar kota dibolehkan patroli dengan jari-jari(straal) 1 (satu) kilometer untuk menjaganya. Dan untuk menjaga dalam kota soal keamanan dijalankan oleh Algemence Polisi Belanda dan Militer Belanda, pasukan Tentara Nasional tidak di bolehkan mendekati Concentraties Tentara Kerajaan Belanda sampai jarak 2(dua) kilometer.

4. Pemindahan pasukan Tentara Kerajaan Belanda dilakukan selama 2 X 24 jam setelah pengumuman berlakunya ceasefire diumumkan dengan menjalankan pemindahan yang ada diluar kota terlebih dahulu, kemudian yang ada di dalam kota. Jalan-jalan yang digunakan tidak akan mendapat gangguan dari Tentara Nasional Indonesia.

5. Selesainya waktu pemindahan Tentara Kerajaan Belanda dari daerah Yogyakarta ke daerah Kedu – Surakarta maka Tentara Nasional Indonesia yang mempunyai tugas kepolisian akan menggantikan keamanan dalam kota Yogyakarta dari kepolisian Belanda.

6. Setelah penyerahan keamanan kota Yogyakarta dilakukan, maka segera” Kepolisian Belanda dengan lain Staf Militer maupun Sipil” berangkat ke Luar daerah Yogyakarta dengan diantar oleh UNCI.

7. Jalan-jalan yang digunakan pemindahan pasukan Belanda ialah:

Bantar - Yogyakarta

Padokan - Yogyakarta

Bantul - Yogyakarta

Plered - Pasargede - Yogyakarta

Wonosari - Piyungan – Patuk – Prambanan – Maguwo - Yogyakarta

Kaliurang – Kledokan – Yogyakarta

Cebongan – Medari – Tempel – Magelang

Yogyakarta – Sleman – Magelang

8. Setelah Selesai meninggalkan daerah Yogyakarta, maka Tentara Kerajaan Belanda tidak diperbolehkan melalui perbatasan daerah Yogyakarta.37

Adanya akibat yang didapat dari kedua belah pihak dan yang paling banyak menelan korban adalah pihak Belanda sendiri baik dari segi material dan jiwa serta mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga dari pihak Belanda dan TNI mengadakan pelaksanaan ceasefire dimana kedua belah pihak harus menghentikan gencatan senjata dan adanya penarikan pasukan Belanda dari willayah Yogyakarta dan sekitarnya, serta pasukan TNI tidak diperbolehkan melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang sedang melakukan pemindahan pasukan selama 2X24 jam. Dengan demikian keamanan wilayah Yogyakarta dikendalikan oleh Pasukan TNI yang berada di wiilayah Yogyakarta, dan bersih dari pasukan Belanda

BAB V

KESIMPULAN

Sebelum terjadi Serangan Umum, keadaan kota Yogyakarta semakin buruk dikarenakan keamanan yang tidak stabil dan bertambahnya jumlah pengungsi dari luar Yogyakarta dan kekurangan bahan pangan serta yang paling mengganggu dalam bidang ekonomi adalah alat pembayaran yang terbagi yaitu mata uang Belanda dan ORI. Kemudian daerah Yogyakarta membentuk pemerintahan sipil dan militer, pemerintahan sipil ini digunakan sebagai penghubung antara kepala daerah setempat dengan wakil kepala daerah yang dilaksanakan oleh Jawatan Praja. Sedangkan pemerintahan militer digunakan untuk mengadakan operasi militer dalam menghadapi Belanda sehingga pihak Indonesia melakukan strategi perang gerilya dalam menghadapi Belanda dengan mendirikan pos-pos operasi gerilya dan wilayah penyerangan dalam kota, pemerintahan militer ini dibawah pimpinan Kolonel Abdul Harris Nasution dengan membentuk MBKD(Markas Besar Komando Daerah) khusus daerah Jawa, dan ide ini(Serangan) dari Sri Sultan sendiri dikarenakan dia melihat.nasib masyarakat Yogyakarta dan semua daerah yang ingin bebas dan merdeka dari pendudukan Belanda di Yogyakarta. Dan dengan dikeluarkan Perintah kilat dari Panglima Besar Jendral Sudirman maka dimulailah Serangan balasan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, dan dari dikeluarkan perintah kilat inilah Serangan Umum 1 Maret 1949 terjadi di daerah Yogyakarta.

Dalam perkembangan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta membawa berkah bagi masyarakat Yogyakarta karena kota Yogyakarta dapat berfungsi kembali sebagai Ibukota RI dan berhasil mengusir atau memukul mundur Pasukan Belanda dari wilayah Yogyakarta, sehingga membawa dampak bagi perekonomian negara RI dimana perekonomian bisa kembali berfungsi sedia kala secara bertahap. Dan juga Politik Indonesia mendapat dukungan dari luar negeri, serta pasukan Belanda ditarik mundur dari Yogyakarta. Sehingga wilayah Yogyakarta kembali Aman dari pasukan Belanda, dari ketiga sasaran diatas perlu diketahui bahwa TNI masih ada dan juga berkat TNI Negara kesatuan Republik Indonesia bisa kembali berfungsi, serta menunjukkan kepada Belanda bahwa Indonesia masih ada kekuatan untuk melawan segala bentuk penjajahan di Indonesia.

Dengan Adanya akibat yang didapat dari kedua belah pihak dan yang paling banyak menelan korban adalah pihak Belanda sendiri baik dari segi material dan jiwa serta mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga dari pihak Belanda dan TNI mengadakan pelaksanaan ceasefire dimana kedua belah pihak harus menghentikan gencatan senjata dan adanya penarikan pasukan Belanda dari willayah Yogyakarta dan sekitarnya, serta pasukan TNI tidak diperbolehkan melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang sedang melakukan pemindahan pasukan selama 2X24 jam. Dengan demikian keamanan wilayah Yogyakarta dikendalikan oleh Pasukan TNI yang berada di wiilayah Yogyakarta, dan bersih dari pasukan Belanda.



[1] Seskoad, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada, hal 17

[2] Seskoad, Ibid, hal 9

[3] Dwi Purwoko, Perjuangan Pemerinntahan Reepublik Indonesia (PDRI) Sebuah Renungan Bagi Generasi Muda Muslim, Jakarta: Media Daa’wah, hal 10

[4] G.Moedjanto,1988,Indonesia abad ke20 jlid I, Yogyakarta : kanisius. Hal 181.

[5] Ibid, hal.m 189.

[6]Menurut Belanda aksi yang dilakukan bukan ssuatu peperangan, melainkan aksi polisionil. Hal ini disebabkan karena Belanda menganggap bahwa perang itu ditujukan bagi pertikaian senjata antara dua kekuatan yang sama-sama mempunyai kedaulatan, sedang Indonesia ia anggap belum berdaulat. Bagi Indonesia menganggap sebagai perang Kolonial, karena Republik telah mempunyai kedaulatan berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945.

[7] Ide Anak Agung Gde Agung,1983, RENVILLE, Jakarta: Sinar Harapan. Halm19

[8] G. Moedjanto,1988. Indonesia Abad ke20 jilid 2, Yogyakarrta, Kanisius, hal 19

[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949. Jakarta. PT Citra Lamtoro Gung hal 207

[10] Seskoad, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada, hal 110

[11] Ibid.hal 110

[12] Dinas Sejarah Militer Kodam VII/ Diponegoro kerjasama Borobudur Megah Semarang,1977. Rumpun Diponegoro dan pengabadianya, hal 98

[13] Penerbit Angkasa Bandung, Sekitar Perang Kemerdekaan. Perang Gerilya Semesta II Jilid 10, hal17

[14] Seskoad, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada, hal 119-120

[15] Seskoad, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada, hal 119-120

[16] Penerbit Angkasa Bandung, Sekitar Perang Kemerdekaan. Perang Gerilya Semesta II Jilid 9 hal 110

[17] Penerbit Angkasa Bandung 1984, Pokok-Pokok Gerilya dan Pertahanan RI di masa lalu dan yang akan datang hal 301-302

[18] Ibid. hal 311-313

[19]Ibid, hal 194-195

[20] Mohamad Roem, Mucthar Lubis,Tahta Untuk Rakyat,op.cit hal 80

[21] Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret Sebuah Pelurusan Sejarah, hal 65

[22] Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD, hal 213-214

[23] Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret Sebuah Pelurusan Sejarah, hal 75

[24] Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD, hal 220-221

[25] Ibid Hal 221-222

[26] Op.cit hal 223

[27] Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret sebuah Pelurusan Sejarah, hal 32-33

26 Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret Sebuah Pelurusan Sejarah, hal 122-123

27 Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD hal 254-255

28 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949. Jakarta. PT Citra Lamtoro Gung 208

29 Paguyuban Wehrkreise III, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Jakarta;1987. hal 20

30 Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD hal 264-265

31 Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret Sebuah Pelurusan Sejarah hal 49

32 ibid hal 51

33 Media Presindo, Serangan Umum 1 Maret Sebuah Pelurusan Sejarah, hal 50-51

34Ibid. hal 277-278

35Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD hal 278-280

36 i bid hal 282

37Departement Pendidikan dan Kebudayaan, SESKOAD, hal 283-289

Tidak ada komentar:

Posting Komentar